Assalamualaikum

Minggu, 03 Maret 2013

Struktur dan Fungsi Jaringan pada Hewan


A. Jaringan Hewan
Di dalam tubuh hewan, tidak terkecuali hewan vertebrata, terdapat berbagai macam organ. Namun demikian, berbagai organ ini tidak serta merta terbentuk bila tidak ada jaringan menyusunnya. Secara umum, sel hewan memiliki struktur yang berbeda dengan sel tumbuhan. Karena itu, kedua makhluk hidup ini mempunyai jaringan yang berbeda.
Ahli histologi mengelompokkan jaringan hewan menjadi empat macam meliputi : 
1. Jaringan Epitel
Seperti jaringan epidermis pada tumbuhan, jaringan epitel berperan sebagai pelapis organ dan rongga tubuh bagian luar. Jaringan ini dapat ditemukan pada permukaan tubuh yang membatasi organ tubuh dengan lingkungan luarnya. Jaringan epitel yang melapisi permukaan tubuh atau lapisan luar tubuh dinamakan epitelium. Sedangkan jaringan epitel yang membatasi rongga tubuh dinamakan mesotelium, misalnya perikardium, pleura, dan peritonium. Kemudian, jaringan  yang membatasi organ tubuh dinamakan endotelium. Di dalam  struktur tubuh, jaringan epitel berfungsi sebagai pelindung jaringan di bawahnya dari kerusakan, pengangkut zat-zat antarjaringan, dan tempat keluarnya enzim.
Berdasarkan strukturnya, jaringan epitel dibedakan menjadi 3 macam, yaitu epitel pipih, epitel batang (silinder), dan epitel kubus. Kita bias membedakan ketiga jaringan epitel tersebut berdasarkan ciri-cirinya. Epitel pipih memiliki ciri yakni selnya berbentuk pipih dengan nukleus bulat di tengah. Epitel batang (silinder) tersusun oleh sel berbentuk seperti batang dengan nukleus bulat di dasar sel. Sedangkan epitel kubus memiliki sel berbentuk kubus dengan nukleus bulat besar di tengah.
Menurut lapisan penyusunnya, jaringan epitel terbagi atas beberapa jaringan, yakni epitel pipih selapis, epitel pipih berlapi banyak, epitel silindris selapis, epitel silindris berlapis banyak, epitel kubus selapis, epitel kubus berlapis banyak, dan epitel transisi. 
a. Epitel Pipih Selapis
Jaringan epitel pipih selapis (sederhana) banyak ditemukan pada organ-organ seperti pembuluh darah, pembuluh limfa, paru-paru, alveoli, dan selaput perut. Sitoplasma jaringan ini sangat jernih, inti selnya berbentuk bulat di tengah, dan sel-selnya tersusun sangat rapat. Jaringan epitel pipih selapis berperan dalam proses fi ltrasi, sekresi, dan difusi osmosis. Perhatikan Gambar 3.1   
Gambar 3.1 Epitel pipih selapis

b. Epitel Pipih Berlapis
Seperti epitel pipih selapis, sel jaringan epitel pipih berlapis (kompleks) tersusun sangat rapat. Rongga mulut, esofagus, laring, vagina, saluran anus, dan rongga hidung banyak tersusun oleh jaringan ini. Fungsinya adalah sebagai pelindung dan penghasil mukus. Epitel pipih berlapis dapat kalian simak pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Epitel pipih berlapis
pada rongga mulut

c. Epitel Batang Selapis
Sel berbentuk batang, sitoplasma jernih, dengan inti sel bulat berada di dekat dasar merupakan ciri jaringan ini. Epitel batang selapis banyak ditemukan pada usus, dinding lambung, kantong empedu, saluran rahim, saluran pencernaan, dan saluran pernafasan bagian atas. Epitel ini dapat kalian cermati pada Gambar 3.3. 

Gambar 3.3 Epitel batang selapis
pada usus
Jaringan ini berfungsi dalam proses sekresi, penyerapan (absorpsi), penghasil mukus, dan pelicin/pelumas permukaan saluran.
d. Epitel Batang Berlapis Banyak
Seperti namanya, jaringan ini tersusun banyak lapisan sel yang berbentuk batang. Jaringan epitel batang berlapis banyak terdapat pada beberapa organ tubuh seperti bagian mata yang berwarna putih, faring, laring, dan uretra. Bentuk epitel ini dapat kalian simak pada Gambar 3.4. 

Gambar 3.4 Epitel batang
berlapis banyak
Fungsinya yaitu sebagai tempat sekresi yakni penghasil mukus, dan ekskresi, misalnya kelenjar ludah dan kelenjar susu.
e. Epitel Kubus Selapis
Jaringan epitel berbentuk kubus selapis ditemui pada beberapa bagian, meliputi permukaan ovarium, nefron, ginjal, dan lensa mata. Perhatikan Gambar 3.5

Gambar 3.5 Epitel kubus selapis
pada ginjal
Fungsinya adalah tempat sekresi.
f. Epitel Kubus Berlapis Banyak
Epitel kubus berlapis banyak terdapat pada beberapa bagian tubuh, yakni folikel ovarium, testis, kelenjar keringat, dan kelenjar ludah. Cermatilah bentuk epitel kubus berlapis banyak pada Gambar 3.6. 

Gambar 3.6 Epitel kubus ber lapis
banyak pada faring
Fungsi jaringan ini adalah sebagai pelindung dan penghasil mukus. Selain itu, jaringan ini juga berfungsi sebagai pelindung dari gesekan. 
g. Epitel Transisi
Sel penyusun epitel transisi bentuknya dapat berubah dan berlapislapis. Epitel ini dapat ditemukan pada organ saluran pernafasan, ureter, dan kandung kemih. Saat kandung kemih berisi urine, sel epitel akan berbentuk kuboid seperti dadu atau silindris. Epitel transisi pada kandung kemih dapat kalian cermati pada Gambar 3.7. 

Gambar 3.7 Epitel transisi pada
kandung kemih
Sementara berdasarkan fungsinya, jaringan hewan memiliki salah satu jenis jaringan yang disebut jaringan epitel kelenjar. Epitel kelenjar banyak terdapat pada kelenjar endokrin dan kelenjar eksokrin. Kelenjar endokrin tidak memiliki saluran, sehingga hasilnya langsung masuk ke dalam peredaran darah. Contoh: kelenjar adrenal, timus, dan tiroid. Bentuk epitel kelenjar endokrin terdapat pada Gambar 3.8. 

Gambar 3.8 Epitel kelenjar endokrin pada
kelenjar tiroid
Sedangkan kelenjar eksokrin terdapat pada saluran keluar tubuh. Misalnya, kelenjar keringat dan kelenjar ludah. Fungsinya adalah sebagai tempat sekresi zat dalam metabolisme. Supaya kalian mengetahui bentuk epitel kelenjar eksokrin, perhatikan Gambar 3.9.

Gambar 3.9 Epitel kelenjar eksokrin pada
kelenjar keringat

2. Jaringan Ikat
Saat kalian menyambung tali yang putus menjadi dua bagian, kemudian kalian mengikatnya, maka tali tersebut akan menjadi kuat kembali. Sama seperti tali, organ dan jaringan tubuh kita dihubungkan oleh jaringan ikat sehingga menjadi kuat. Karena itu, jaringan ikat disebut juga jaringan penyambung atau jaringan penyokong. 
Jaringan ikat berfungsi melekatkan konstruksi antarjaringan, membungkus organ, menghasilkan energi, menghasilkan sistem imun, dan mengisi rongga-rongga di antara organ.
Berbeda dengan jaringan epitel yang sel-selnya tersusun rapat, kumpulan sel jaringan ikat amat jarang dan tersebar dalam matriks ekstraseluler. Selain itu, sel-sel jaringan ikat memiliki bentuk yang tidak teratur. Sebagian besar matriksnya terdapat serat-serat dan bahan dasar yang berupa cairan. 
Jaringan ikat memiliki bahan dasar yang tidak berwarna, tidak berbentuk (amorf), dan homogen. Bahan dasar ini berasal dari asam mukopolisakarida yaitu asam hialuronat. Akibatnya, matriks menjadi lentur dan semakin banyak air. Di dalamnya terdapat pula asam mukopolisakarida sulfan yang menjadikan struktur jaringan ikat bersifat kaku. 
Serat jaringan ikat yang terbuat dari protein dan sebagai penyusun matriks memiliki berbagai jenis serat, meliputi serat kolagen, serat elastis, dan serat retikuler. 
Serat kolagen berwarna putih atau disebut serat putih. Seratnya tersusun atas protein kolagen, sehingga memiliki sifat kuat, daya regang tinggi, dan elastisitas yang rendah. Serat ini banyak terdapat pada kulit, tulang, dan tendon. Perhatikan Gambar 3.10.

Gambar 3.10 Serat kolagen dan
serat elastic
Sementara itu, serat elastis berwarna kuning atau disebut serabut kuning. Serat elastis terbuat dari protein elastin dan mukopolisakarida, sehingga memiliki elastisitas tinggi. Serat ini banyak terdapat pada bantalan lemak, ligamen, dan pembuluh darah. 
Serat retikuler sangat tipis dan bercabang, tersusun atas kolagen dan terhubung pula dengan serat kolagen. Karena itu, serat retikuler mempunyai sifat yang sama dengan serat kolagen. Bahan dasarnya mengandung glikoprotein. Serat ini berfungsi sebagai penghubung jaringan pengikat dengan jaringan sebelahnya. Serat retikuler dapat ditemukan pada hati, limpa, dan kelenjar-kelenjar limfa. Cermatilah Gambar 3.11. 

Gambar 3.11 Serat retikuler
Selain ciri-ciri tersebut, jaringan ikat memiliki berbagai jenis sel meliputi, sel fi broblas, sel makrofaga, sel tiang, sel lemak, berbagai jenis jaringan sel darah putih, dan sel plasma.
Fibroblas merupakan sel jaringan ikat berbentuk serat dengan fungsi mensekresikan protein. Makrofaga merupakan sel jaringan ikat yang bentuknya tidak tetap, memiliki fungsi fagositosis (memakan zat buangan, sel-sel mati, dan bakteri) dan letaknya dekat pembuluh darah.
Sel tiang (mast cell) berperan menghasilkan hormon heparin dan histamin. Heparin berfungsi dalam pembekuan darah, sedangkan histamin berfungsi meningkatkan permeabilitas kapiler darah.
Sel jaringan ikat juga tersusun dari sel lemak (sel adiposa) dan berfungsi menyimpan lemak.
Untuk melawan patogen (bakteri, virus, dan protozoa), sel jaringan ikat mengandung sel darah putih (leukosit). Leukosit terbagi atas dua jenis sel, yaitu sel bergranula (granulosit), misalnya eosinofi l, basofi l, dan netrofi l dan sel tak bergranula (agranulosit), contohnya monosit dan limfosit. 
Jaringan ikat tersusun pula dari sel plasma. Sel ini kerapkali ditemukan di bawah membran epitel, misalnya pada saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Sel plasma berfungsi mem produksi antibody untuk melawan antigen (protein asing). 
Berdasarkan jenisnya, jaringan ikat dikelompokan dalam tiga tipe, yakni jaringan ikat sebenarnya, jaringan tulang rangka, jaringan darah dan jaringan limfa. 
a. Jaringan Pengikat Sebenarnya
Jaringan ikat sebenarnya dibedakan menjadi jaringan peng ikat berserat (fibrosa), jaringan ikat elastis, jaringan ikat lemak dan jaringan ikat longgar.
1) Jaringan Ikat Berserat
Matriks jaringan ikat berserat mengandung serat putih berkolagen, namun kolagennya tidak elastis. Kita dapat temui jenis jaringan ini pada tendon yang melekatkan otot ke tulang dan ligamen yang menghubungkan tulang dengan tulang lain pada persendian. Jaringan ini berfungsi menghubungkan tulang dengan tulang dan otot dengan tulang. Perhatikan bentuk jaringan ini pada Gambar 3.12.

Gambar 3.12 Jaringan pengikat
berserat
2) Jaringan Ikat Elastis
Matriks jaringan ikat elastis mengandung serabut elastis kuning. Bisa kita temukan pada ligamen dan dinding arteri. Jaringan pengikat ini berfungsi sebagai pelindung elastisitas jaringan. Jaringan ikat elastis dapat kalian simak pada Gambar 3.13.

Gambar 3.13 Jaringan
ikat elastis
3) Jaringan Ikat lemak
Jaringan ikat lemak disebut pula jaringan adiposa. Di dalamnya banyak tersimpan sel lemak berbentuk bulat. Jaringan adiposa berfungsi melapisi dan menginsulasi tubuh, kemudian juga me nyimpan molekul bahan bakar. Letaknya berada pada epidermis kulit, sumsum tulang, sekitar sendi dan ginjal. Selain itu, jaringan ini berfungsi sebagai penyimpan lemak, dan berperan sebagai bantalan. Cermatilah bentuk jaringan ikat lemak pada Gambar 3.14.

Gambar 3.14 Jaringan
ikat lemak
4) Jaringan pengikat longgar
Diberi nama jaringan ikat longgar karena seratnya amat longgar. Jenis seratnya berkolagen, elastis, dan juga berserat retikuler. Letaknya berada pada bagian bawah kulit, di dekat pembuluh darah dan saraf, dan sekitar organ. Jaringan ini berperan dalam mengikat jaringan epitel dan jaringan di bawahnya. Selain itu, jaringan ikat longgar berfungsi menjaga organ tetap berada di tempatnya. Perhatikan bentuk jaringan ikat longgar pada Gambar 3.15.

Gambar 3.15 Jaringan
ikat longgar
b. Jaringan Tulang/Rangka
Jaringan tulang rangka meliputi jaringan tulang rawan dan tulang sejati. Matriks jaringannya tersusun atas kondrin jernih seperti kanji, yang terbuat dari fosfat dan mukopolisakarida. Kondrin dihasilkan oleh sel-sel kondroblast yang terdapat pada laluna. Sel tulang rawan ini dinamakan kondrosit dengan fungsi mensintesis matriks. Jaringan tulang rawan pada anak-anak berasal dari jaringan mesenkim. Sedangkan pada orang dewasa dibentuk oleh selaput rawan atau fibrosa yang dinamakan perikondrium. 
1) Jaringan Tulang Rawan
Jaringan tulang rawan disebut pula kartilago yang terbagi menjadi 3 jenis, yakni kartilago hialin, kartilago elastis, dan kartilago fi broblas.
Tulang rawan hialin memiliki berwarna putih kebiruan dan transparan. Di dalam matriksnya terdapat serat elastis. Cermati Gambar 3.16. 

Gambar 3.16 Jaringan tulang
rawan hialin
Jaringan ini banyak ditemukan dalam tubuh. Ketika masih embrio, tulang ini berfungsi sebagai rangka sementara. Sementara pada orang dewasa, tulang rawan hialin terdapat pada persendian, ujung tulang rusuk, dan saluran pernafasan.
Di dalam tulang rawan elastis terdapat serat elastis berwarna kuning. Perhatikan Gambar 3.17. Selain itu, di dalamnya juga terdapat perikondrium. Serat elastis ini berfungsi member kelenturan dan menyokong jaringan tulang rawan. Tulang rawan ini terdapat pada embrio, laring, telinga luar, dan epiglotis. 

Gambar 3.17 Jaringan tulang
rawan fibroblast
Pada tulang rawan fi broblas terdapat matriks yang tersusun atas kolagen dengan warna gelap dan keruh. Simaklah Gambar 3.18. 

Gambar 3.18 Jaringan tulang
rawan elastic
Secara struktural, jaringan ini merupakan jaringan tulang rawan yang terkuat. Biasanya terdapat pada hubungan antar tulang belakang dan tendon. Fungsinya adalah sebagai pelindung dan penyokong jaringan.
2) Jaringan Tulang Sejati
Jaringan tulang sejati disebut pula dengan jaringan tulang dewasa. Jaringan tulang sejati tersusun atas sel-sel tulang yang dinamakan osteosit. Osteosit di bentuk oleh osteoblas. Osteoblas berasal dari fi broblas. Oleh karena itu, osteoblas berperan penting dalam proses pembentukan tulang. 
Osteosit tersusun dalam lapisan kon sentris yang disebut lamela. Lamela yang mengelilingi kapiler disebut saluran Havers. Di dalam saluran Havers ditemukan kapiler, vena, dan arteri. Di antara lamela terdapat ruang tempat osteosit yang disebut lakuna. Sementara, antar saluran Havers dihubungkan oleh sebuah saluran yang dinamakan saluran Volkman. Osteosit yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh kapiler kanalikuli. Saat mengalami kematian, osteosit ini akan diserap oleh suatu bagian yang disebut osteoklas. Agar kalian paham mengenai jaringan tulang sejati, simak Gambar 3.19.


Gambar 3.19 Jaringan tulang sejati
Tulang mengandung senyawa kalsium klorida (CaCl2), kalsium fosfat (Ca2PO4), magnesium klorida (MgCl2), dan barium sulfat (BaSO4). Bagi tubuh, tulang ini berfungsi sebagai penyokong, tempat melekatnya otot, dan pelindung organ yang lunak.
Tulang sejati berbeda dengan tulang rawan, sebab tulang sejati mengalami mineralisasi yaitu proses perubahan penyusunan materi organik menjadi materi anorganik. Mineral yang dominan pada tulang ini adalah kalsium dan fosfat.
Di dalam tubuh, tulang sejati dikelompokkan menjadi tulang kompak dan tulang spongiosa. Tulang kompak mempunyai cirri tidak berongga, sedangkan tulang spongiosa (spons) memiliki struktur yang berongga.
c. Jaringan darah dan limfa
Saat bagian tubuh kita ada yang tergores dengan benda yang tajam atau keras, boleh jadi darah akan keluar dari bagian tubuh tersebut. Darah yang keluar itu disebut sebagai jaringan darah. Disebut demikian, karena darah termasuk pula jaringan ikat. Penge lompokkan ini didasarkan pada fakta bahwa sel darah dan sel jaring an pengikat berasal dari sel yang sama.
Darah tersusun dari matriks yang berupa cairan yang disebut plasma dan bagian padat yang disebut sel-sel darah. Plasma darah tersusun atas air, garam-garam, dan berbagai jenis protein terlarut. Sementara itu, sel-sel darah meliputi sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).
Sel darah merah vertebrata mengandung pigmen merah yang disebut hemoglobin. Adapun sel darah putih tidak memiliki hemoglobin dan memiliki jenis yakni limfosit, monosit, neutrofi l, eosinofil, dan basofil. Sedangkan, keping darah merupakan fragmen sel yang berada dalam sumsum tulang.
Jaringan darah ini memiliki berbagai fungsi. Sel darah merah berperan membawa oksigen yang dialirkan ke seluruh bagian tubuh, sel darah putih berfungsi dalam pertahanan tubuh untuk melawan virus, bakteri, dan penyerang lainnya, dan keping darah bermanfaat saat penggumpalan darah.
Selain jaringan darah, terdapat pula jaringan limfa atau getah bening. Getah bening terdiri atas sel-sel dan serat retikuler. Sel-selnya berupa limfosit dan granulosit seperti neutrofi l, eosinofi l, dan basofi l. Supaya kalian mengetahui bentuk sel-sel darah putih dan limfosit, cermati Gambar 3.22. 

Gambar 3.22 Jenis sel darah putih. A, Basofil; B,
eosinofil; C, neutrofil; E-H, macam-macam limfosit;
I dan J, monosit; D, sel darah merah digambar
dengan skala sama.
Cairan getah bening ini beredar melewati pembuluh limfa yang berada sejajar dengan pembuluh balik.
Fungsi getah bening adalah mengangkut cairan jaringan, lemak, protein, dan zat-zat dari jaringan ke sistem peredaran. Getah bening ini banyak terdapat pada timus, tonsil, dan kelenjar limfa.
3. Jaringan Saraf
Coklat dan susu manis, bila kita nikmati saat bersantai akan terasa nikmat di lidah, terutama rasanya yang manis. Sebaliknya saat sakit, lidah akan terasa pahit terhadap semua makanan yang masuk ke mulut, lebih-lebih lagi bila obat yang dimasukkan. Rasa manis atau pahit dapat dirasakan karena lidah terdapat jaringan saraf.
Jaringan saraf tersusun oleh sel-sel saraf yang disebut neuron. Sel saraf berperan dalam menerima dan meneruskan rangsangan dari bagian satu tubuh ke bagian tubuh yang lain. Sel saraf ini berbentuk unik, dengan sitoplasma yang menjulur dan memanjang. Sel saraf memiliki bagian utama yaitu badan sel (perikarion) dan penjuluran sitoplasma (prosesus) yang meliputi dendrit dan neurit (akson).
Dendrit merupakan serabut pendek yang berperan dalam menerima dan memasukkan rangsangan ke badan sel. Adapun neurit (akson) adalah serabut panjang, yang berfungsi menghantarkan impuls/ rangsangan dari badan sel ke neuron lain. Akson ini biasanya dibungkus
oleh sel Schwann. Antara akson suatu neuron dengan dendrit neuron lainnya ditautkan oleh suatu bagian yang disebut sinapsis.
Berdasarkan fungsinya, neuron dapat dibedakan menjadi neuron sensorik, neuron motorik, dan neuron asosiasi. Neuron sensorik berfungsi menerima dan meneruskan rangsang dari indera ke saraf pusat. Kemudian, neuron motorik berfungsi membawa atau menyampaikan impuls dari saraf pusat ke efektor. Sementara, neuron asosiasi menyam paikan impuls dari neuron sensorik ke neuron motorik.
4. Jaringan Otot
Jaringan otot tersusun oleh sel-sel panjang yang disebut serabut otot. Serabut otot ini mampu menggerakkan tulang dan memiliki kemampuan untuk berkontraksi, karena terdapat protein kontraktil yang disebut miofibril. Miofi bril ini disusun oleh aktin dan miosin. 
Otot adalah jaringan terbanyak pada sebagian besar hewan, dan kontraksi otot juga banyak dilakukan pada kerja seluler oleh hewan yang aktif. Lebih-lebih lagi saat kita melakukan kerja berat.
Pada tubuh vertebrata, jaringan otot dibedakan menjadi tiga, meliputi jaringan otot rangka, jaringan otot polos, dan jaringan otot jantung. 
a. Jaringan Otot Rangka
Jaringan otot rangka disebut juga otot lurik. Sebab, otot ini memiliki serabut-serabut kontraktil gelap (anisotrop) dan terang (isotrop) yang saling bertindih. Sehingga, penampakan otot ini di bawah mikroskop seperti lurik. Cermati Gambar 2.26. 

Gambar 2.26 Jaringan otot rangka
Selain itu, sel otot rangka berbentuk silindris dan berinti banyak di tepi. Otot rangka ini memiliki sifat volunter. Artinya, otot bekerja di bawah kesadaran, berkontraksi secara cepat, namun rasa lelah juga cepat diperoleh.
Dikatakan otot rangka, karena otot tersebut melekat pada rangka atau tulang, kemudian juga pada bibir, lidah, dan kelopak mata. Pada tulang, otot rangka melekat pada otot bisep-trisep.
b. Jaringan Otot Polos
Dinamakan otot polos, karena serabut kontraktilnya tidak gelap (terang), sedangkan sarkoplasma (sitoplasma sel otot)-nya tampak polos atau tanpa penampakan lurik. Sel otot polos berbentuk gelendong dengan satu buah inti pipih terletak di tengah. Perhatikan Gambar 2.27.  
Gambar 2.27 Jaringan otot polos
Otot ini dapat ditemukan dalam dinding saluran pencernakan seperti usus dan lambung, kemudian pada kandung kemih, dan pembuluh darah.
Otot polos disebut pula otot otonom. Sebab, otot ini bertanggungjawab atas aktivitas tidak sadar, seperti gerakan lambung atau penyempitan pembuluh darah. Selain ciri tersebut, otot polos memiliki kontraksi sangat lambat, tidak cepat lelah, dan tahan lama.
c. Jaringan Otot Jantung
Jaringan otot jantung merupakan penyusun jantung dan vena kava yang menuju jantung. Jaringan otot ini tersusun oleh serabutserabut lurik yang bercabang-cabang dan saling berhubungan. Inti selnya terletak di tengah dan dapat berjumlah lebih dari satu. Simak Gambar 2.28. 

Gambar 2.28 Jaringan otot jantung
Jaringan otot jantung memiliki diskus interkalaris yaitu pertemuan antara dua sel otot. Kontraksinya tidak di bawah kesadaran (involunter).
Jaringan vertebrata yang berkumpul akan membentuk organ. Sedangkan, kumpulan berbagai macam organ yang bekerja dengan mekanisme dan tujuan tertentu akan membentuk sistem organ. 
B. Organ dan Sistem Organ
Daging merupakan salah satu sumber protein hewani bagi tubuh manusia. Daging ini berasal dari salah satu organ tubuh hewan. Misalnya, jantung, hati, otak, atau organ yang lain. 
1. Organ
Tubuh vertebrata tersusun atas banyak organ. Organorgan ini akan bekerja sesuai fungsinya. Misalnya saja organ penyusun sistem pencernakan, seperti mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan anus. Organ tersusun atas berbagai jaringan. Sebagai contoh organ usus terdiri atas jaringan epitelium, jaringan otot polos, jaringan saraf, dan jaringan ikat.
Berdasarkan letaknya, organ tubuh vertebrata, termasuk manusia, dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu organ luar dan organ dalam. Organ luar adalah organ yang dapat dilihat dari luar, sedangkan organ dalam terletak di dalam tubuh. Contoh organ luar adalah hidung dan telinga, sedangkan organ dalam meliputi jantung, paru-paru, usus, ginjal, dan sebagainya.
2. Sistem Organ
Suatu organ dalam tubuh makhluk hidup, baik manusia, hewan, ataupun tumbuhan tidak dapat terpisah dari organ lainnya. Sebagai contoh, saluran pernafasan pada manusia. Saat melakukan pernafasan, organ yang digunakan antara lain hidung, paru-paru, dan jantung. Bila salah satu organ dihilangkan atau terjadi kerusakan, maka proses respirasi akan terhambat, bahkan tidak akan terjadi proses respirasi. Selain itu, ada juga sistem pencernaan yang termasuk juga sistem organ. Perhatikan Gambar 2.30.

Gambar 2.30 Sistem pencernaan pada manusia

Nah, dari contoh tersebut kita ketahui bahwa, antara satu organ dengan yang lain tidak dapat saling dipisahkan. Dengan demikian, sistem organ adalah gabungan dari berbagai organ untuk melakukan suatu fungsi di dalam tubuh. Organ-organ yang merupakan bagian sistem organ tersebut memiliki peranan sama penting di dalam mewujudkan fungsi sistem. Apabila terjadi kerusakan pada sebuah sistem, akan menimbulkan gangguan sistem yang lain. Akibatnya,
metabolisme dalam tubuh menjadi tidak stabil.
3. Tranplantasi Organ
Pada bahasan sebelumnya, kalian telah mempelajari organ dan sistem organ. Antara organ satu dengan yang lainnya saling berhubungan, tidak berdiri sendiri. Andaikan salah satu organ rusak, organ yang lainnya akan terganggu. Karena itu, organ yang rusak tersebut ada kemungkinan dapat diganti. Salah satu teknologi yang digunakan adalah tranplantasi organ.
Sebelum kalian lebih jauh membahas mengenai tranplantasi organ, lakukan terlebih dahulu rubrik berikut.
Dalam bidang medis, organ yang ditranplantasikan misalnya kulit, ginjal, jantung, dan pembuluh darah. Organ-organ ini diperoleh dari donor untuk selanjutnya dipindahkan ke resipien/penerima. Misalnya saja organ yang ditranplantasikan yakni jantung atau ginjal. Agar tidak menyebabkan infeksi oleh benda asing, maka tranplantasi organ seperti ini harus memenuhi persyaratanpersyaratan tertentu. Sehingga organ yang ditranplantasikan tidak dianggap sebagai benda asing oleh tubuh penerima (resipien).
Tranplantasi organ, misalnya contohnya kulit dan pembuluh darah, akan aman dilakukan bila organ yang ditranplantasikan berasal dari tubuh sendiri. Sebagai contoh, penggantian kulit
wajah yang rusak, diambilkan dari kulit punggung atau wajah. Kemudian, untuk mengganti pembuluh darah dekat jantung, dapat diambilkan dari pembuluh darah pada lengan atau kaki. Setelah tranplantasi dilakukan, kulit wajah yang tersisa dapat menyatu dengan kulit punggung atau kulit wajah. Artinya jaringan baru akan tumbuh pada bagian yang terluka.
Saat tranplantasi, para dokter berupaya untuk memeroleh organ yang memiliki sistem imun. Kemudian organ tersebut juga harus identik dengan resipien. Hal ini diperoleh jika organ berasal dari tubuh pasien sendiri. Selain itu, perlu dikembangkan upaya “penumbuhan” organ (jantung atau ginjal) yang berasal dari sel tubuh penderita. Upaya ini merupakan teknik pengklonan sel menjadi organ.
Terus, bagaimana dengan kulit yang ditranplantasikan berasal dari orang lain? Andaikan kulit berasal dari orang lain, ada kemungkinan pembuluh darah menyusup ke jaringan baru atau terjadi peristiwa vaskularisasi. Akibatnya, tubuh akan memberikan reaksi dengan memproduksi banyak sel limfosit. Selain itu, makrofaga akan masuk ke dalam jaringan yang ditranplantasikan. Namun, hal ini tidak terjadi, bila organ yang ditranplantasikan berasal dari dua bersaudara yang kembar siam.
Operasi bedah wajah total (face off ) adalah salah satu teknik transplantasi organ yang pernah dilakukan di Indonesia. Penyebabnya, antara lain karena adanya kulit wajah pasien yang rusak akibat tersiram air keras. Karena itu, organ kulit wajah dan pembuluh darah harus dioperasi. Kulit dan pembuluh darah yang ditranplantasikan pada kondisi ini dapat diambil dari kulit punggung dan paha pasien itu sendiri.
Sekedar contoh, kita mungkin pernah mendengar operasi face off yang dilakukan salah seorang bernama Yanti (bukan nama pasien sebenarnya). Operasi ini dilakukan tanggal 29 Maret 2006 oleh tim dokter RSU dr. Sutomo, Surabaya. Pada operasi tersebut, dilakukan beberapa tahapan, antara lain, operasi menyayat tubuh bagian kanan, seperti wajah kanan, paha kanan, dan punggung kanan. Kemudian operasi tubuh bagian kiri, seperti wajah kiri, punggung kiri, dan paha kiri, dan pemotongan pembuluh darah. Lima hari pasca operasi, jaringan kulit wajah sudah kembali sedia kala. Alhasil, Yanti dapat memiliki organ tubuh lengkap meski tingkat kesempurnaannya berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar